Estetis Juventus Yang Patut Di Apresiasi

Seperti klub-klub lain dari Italia, Juventus dinilai sebagai salah satu klub yang mempunyai gaya permainan bertahan di Eropa. Terutama dalam 7 tahun terakhir, Juventus selalu menjadi klub yang paling sedikit kebobolan di ajang Serie A Italia.

Catatan hebat itu sukses digapai Juve ketika diperkuat oleh Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci dan Andrea Barzaghli. Dalam sejarah, sepakbola Italia memang sangat lekat dengan gaya bertahan. Permainan bertahan merupakan seni level tinggi yang hanya dapat dilakukan oleh para pemain Italia. Jadi tidak perlu heran jika Juventus sangat ahli untuk menunjukkan gaya permainan yang sama.

Menariknya lagi, di musim ini, tim arahan Masimiliano Allegri tersebut sukses mencatatkan 3 gol ataupun lebih dalam separuh giornata yang telah mereka jalani hingga berita ini ditulis, dengan rata-rata  2,6 gol per laga.

Barangkali, fleksibilitas mereka ketika menyerang dan juga bertahan itu yang mengakibatkan penonton netral masih belum bisa menyambutnya dengan baik. Ketika gaya bermain menyerangnya itu tertambat dengan sistem tertentu (bayangkan Napoli atau Manchester City dengan skema 4-3-3), gaya bermain Juve jauh semakin fleksibel.

Juventus mempunyai kemampuan adatif yang sangat hebat. Mereka dapat merubah formasi dalam waktu yang singkat untuk menyesuaikan diri dengan sebuah situasi yang ada, tidak jarang dilakukan ketika pertandingan sedang berlangsung. Tapi, hal tersebut membuat Juventus tidak mempunyai identitas taktik yang jelas.

Praktisnya, fleksibilitas itu adalah tanda yang nyata kalau Juventus, seperti tim-tim Italia kebanyakan, pemuja skor akhir. Tidak ada adagium secara khusus di Italia mengenai gaya bermain yang ideal, karena yang paling penting ialah hasil akhir. Yang berupa kemenangan.

Saat berhadapan dengan Fiorentina pada 9 Februari lalu, fleksibilitas Juve terlihat kembali. Laga memasuki menit ke 55, Allegri menurunkan Barzaghli yang adalah seorang bek tengah untukk mengganti Lichtsteiner yang posisi aslinya adalah bek kanan.

Hal itu dilakukan sang pelatih untuk meredam kebangkitan tim lawan dalam sisa waktu babak kedua. Keputusan tersebut memang manjur karena Juventus sukses mempertahankan skor dan juga mengunci kemenangan, namun apa yang sudah dilakukan Allegri (bek tengah mengganti bek kanan), bukan cara yang cantik untuk dapat meraih angka penuh.

Tapi sebagai kesebalasan yang begitu terobsesi dengan gelar juara, Juve membuktikan kualitasnya kepada banyak orang bawa mereka pun bisa tampil menyerang dan ironisnya lagi, hal tersebut diinisiasi dari sektor belakang yang dimana Chellini beperan sebagai ball playing defender.

Sebetulnya, ada beberapa bek di ranah Eropa yang juga pintar menjalani peran tersebut, namun apa yang sudah ditawarkan Chiellini saat ini, dengan mendribel bola ke depan, merupakan pemandangan yang hebat yang muncul di Serie A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *