Apa Yang Diharapkan Inter Milan Dari Seorang Rafinha

Selasa, 23 Januari lalu, secara resmi Inter Milan memperkenalkan Rafinha Alcantara setelah menandatangani kontrak dengan jangka 6 bulan dari Barcelona.

Inter juga memiliki opsi penebusan di pemain dengan mahar 35 juta euro, klausul ini bisa diaktifkan atau tidak tergantung dengan penapilan si pemain pada pertengahan kedua musim 2017/18. Kehadiran pemain 24 tahun tersebut sekaligus menambah amunisi Inter yang sangat sedikit di sektor tengah sebab hanya mempunyai Matias Vecino, Borja Valero, Joao Mario, Roberto Gagliardini, dan Marcelo Brozovic.

Meski begitu, ada rasa kekhawatiran dari para suporter Inter. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa Rafinha memang cukup akrab dengan badai cedera. Selama membela Barceona, setidakya ada 2 momen dimana Rafinha absen selama 5 bulan.

Kemudian, apa yang diharapkan Inter Milan dari pemain seperti Rafinha?

Mempunyai posisi asli menjadi gelandang, pemain asal Brasil tersebut bisa dibilang lumayan serbabisa karena bisa bermain di beberapa lini. Selain menjadi geandang tengah, dia juga dapat diturunkan menjadi gelandang serang yang tempatnya dekat dengan striker sehingga berkesempatan bermain menjadi winger.

Dengan kaki kiri yang menjadi andalannya, Rafinha dapat melakukan aksi cut-inside dari sisi lapangan, baik saat memberikan umpan pada rekannya ataupun mengeksekusi sendiri.

Hal yang kerap dicatut menjadi kelebihan seorang Rafinha ialah akurasi umpan dan kemampuan driblingnya. Dengan 2 kemampuann tersebut, Rafinha kerap ditugaskan menjadi motor serangan, termasuk menjadi kreator dari sektor tengah.

Ketimbang sang kakak, Thiago Alcantara, gaya permainan Rafinha lebih eksplosif dan fisikal. Agretivitasnya saat bermain bahkan membuat dirinya akrab dengan kartu kuning dari wasit.

Berkaca dengan kondisi itu, maka dapat dipastikan kalau sang pelatih Luciano Spalletti akan memiliki pilihan yang banyak saat menerapkan skema bermainnya, khususnya memaksimalkan kemampuan Rafinha.

Seperti yang dikatahui, salah satu problem yang menghinggapi gaya permainan Inter ialah ketidakmampuannya menyediakan alternatif strategi, terutama saat fase menyerang.

Lebih sialnya lagi, Joao Mario dan Brozovic yang menjadi opsi yang tersisa di pinggir lapangan, juga bukanlah sosok yang dapat menghadirkan skema berbeda di sektor tengah. Monotonnya permainan Inter yang segala fase serangannya bertumpu kepada lini sayap membuat lawan kian mudah untuk mengantisipasinya.

Jika Perisic dan Candreva dibuat tak berdaya, bisa dipastikan bahwa Inter kesulitan untuk mengembangkan permainan karena 3 gelandang mereka sangat jarang memberikan alternatif serangan dari tengah.

Suporter Inter juga tidak perlu heran jika melihat klub kebanggaannya jarang sekali melakukan tendangan jarak jauh diluar kotak pinalti karena tidak ada pemain yang bisa mengisi posisi itu dengan bagus. beberapa percobaan yang selama ini mereka lakukan cenderung sporadis, tidak melalui skema yang disusun dengan matang.

Kedatangan Rafinha dalam tubu Inter tentunya berpeluang memberi banyak keuntungan. Tapi fans Inter jangan terlalu berharap banyak sebab Rafinha pastinya memerlukan adaptasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *