Claudio Ranieri Bersama FC Nantes

FC Nantes tidak lagi sekuat dulu lantaran grafik performa mereka yang terlihat menurun. Bahkan mereka pernah terdegradasi di musim 2008/09 sebelum pada akhirnya kembali ke kasta tertinggi pada musim 2013/14.

Nahasnya lagi, setelah kembali ke ajang Ligue 1, Nantes sangat sulit untuk bersaing di tabel atas klasemen dengan tim tadisonal lainnya seperti PSG, Marseille, Lyon, Bordeaux, dan AS Monaco.

Ditengah kebingungan yang melanda, Waldemar Kita selaku Presiden Nantes langsung mengontak satu pelatoh kawakan yang sempat berkarir di Prancis bersama Monaco beberapa tahun yang lalu, Claudio Ranieri. Setelah dipecat oleh Leicester City di pertengahan musim lalu, Ranieri sedang menanggur. Hasilnya, tawaran dari Waldemar pun dia terima.

Sadar jika Nantes tidak memiliki pemain bintang, bahkan seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan N’Golo Kante tatkala menghadirkan sebuah dongeng jawara Liga Inggris dengan Leicester pada musim 2015/16, tidak ada harapan tinggi didalam benak Ranieri. Meski demikian, masih ada rasa optimistis yang muncul pada pelatih berambut putih tersebut.

Dengan mengandalkan motode yang dia yakini sampai saat ini, Ranieri berhasil mengantarkan Nantes memperlihatkan kualitas mereka dengan secara konsisten ada di 6 besar semenjak awal musim ini.

Bermain dengan tanpa ada pemain bintang malah membuatnya sangat luwes untuk menampilkan permainan yang jadi ciri khasnya, dengan mempunyai lini bertahan yang kuat dan kerap memenangkan pertandingan dengan skor tipis 0-1.

Bukti ketangguhan sektor pertahanan Nantes bisa kita lihat dari total kemasukan mereka sampai deti ini. Dalam 19 laga, catatan kemasukan Nantes (18) hanya kalah dari Paris Saint Gerain (15) serta Montplier (13).

Saat wawancara, Erick Kwateng bek Nantes menceritakan pada orang tentang salah satu resep kenapa Nantes dapat mempunyai pertahanan yang sangat kuat.

“Selama sesi latihan, pelatih menekankan pada kami untuk bisa memperlakukan gawang kami seperti seorang kekasaih atau istri. Maka, kami wajib melindungi gawang itu seperti kami melindungi istri atau kekasih,” ujar Kwateng.

Sementara Ranieri sendiri mempunyai analogi yang menarik mengenai kewajiban skuatnya memiliki pertahanan yang kuat.

“Dalam sepakbola, pertahanan mempunyai nilai yang serupa dengan rumah. Bila anda tak mengunci pintunya, pencuri bakal masuk dengan mudah dan bisa mengambil semua yang diinginkan mereka.”

“Namun bila anda mengunci pintu lebih dulu serta menatanya sesuai keinginan anda, sekalipun pencuri tersebut masih dapat masuk, ia bakal keluar dengan tangan kosong,” ujar pelatih asal Italia tersebut.

Bersama Nantes, sepertinya Ranieri ingin memperlihatkan pada banyak orang bahwa dengan skuat yang pas-pasan pun dia dapat membangun fondasi yang kuat untuk nantes untuk dapat bergerak maju serta semakin kuat guna bersaing di ajang Ligue 1 ataupun kompetisi Prancis lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *