Arsenal Perkasa Dalam 339 Detik

Arsenal di laga ini terlihat seperti sekumpulan para bocah berkostum sama. Sementara itu, Liverpool tahu serta menguasai hal yang wajib mereka lakukan. Tak terkecuali Philippe Coutinho, sang pembuka skor pada menit ke 25.

Umpan Sadio Mane pada Coutinho, sebetulnya kurang sempurna. Hadangan dari Laurent Koscielny membuan umpan mendatar Mane jadi melambung. Coutinho, berpikir tepat dan cepat. Dia melompat menyambut datangnya bola. Bola kemudian dia lambungkan kembali menuju tiang jauh. Akhirnya Coutinho sukses mengelabui Petr Cech.

Babak pertama berakhir 1-0 bagi keunggulan tim tamu. Untuk para suporter Arsenal, skor ini bukanlah satu-satunya kecemasan. Skuat mereka tampil sangat buruk pada babak pertama. Statistik pun berbicara demikian.

Kekosongan pada kedua sisi bertahan serta tingginya garis bertahan Arsenal juga diperparah dengan para gelandang tidak memberikan cukup perlindungan pada sektor pertahanan.

2 dari 3 gelandang Arsenal ialah gelandang dengan bertipe menyerang, Jack Wilshere dan Mesut Oezil misalnya. Satu lainnya adalah Granit Xhaka, tidak benar-benar memenuhi kriteria sebagai gelandang bertahan. Saat Liverpool menggandakan skor pada menit ke 51, melihat Wilshere dan Xhaka terpontang-panting berupaya mengejar Mohamed Salah terlihat wajar.

Menilik bagaimana kedua gol tim tamu tercipta, mudah saja menuduh seorang Arsene Wenger tidak becus. Tapi hanya 339 detik semenjak Liverpool menggandakan keunggulan, Arsenal sukses membalikkan keadaan 3-1. Hector Bellerin terus aktif dalam serangan memang ada gunanya. Dan juga dengan Xhaka yang seharusnya bermain untuk menyokong Oezil dan Wilshere.

Gol pemangkas jarak, yang diciptakan Alexis Sanchez pada menit ke 52, berawal dari umpan lambung Bellerin. Gol penyama skor diciptakan Xhaka, dengan tembakan diluar area pinalti yang kelihatannya spekulatif, di menit ke 55. Pada menit ke 57, Oezil langsung melengkapi upaya Arsenal untuk membalikkan skor.

Dari proses terjadinya semua gol Arsena itu, mereka memperlihatkan permainan yang tak mereka perlihatkan pada babak pertama. The Gunners mendominasi sektor tengah sehingga menciptakan gol jadi cukup mudah untuk mereka.

Hal itu tak hanya membuat mereka menguasai jalannya pertandingan serta menciptakan gol dengan mudahnya, namun juga membuat Liverpool tidak mendapatkan bola yang mereka perlukan untuk dapat melakukan counter attack.

Situasi itu berlanjut cukup lama, namun jumlah gol yang bisa Arsenal cetak hanya 3 serta terbukti merugikan. Bahkan Liverpool tanpa serangan balik pun, bisa menciptakan gol penyama skor. Gol dari Roberto Firmino pada menit ke 70 membuat skor imbang sampai akhir pertandingan.

“Memang benar, saat skor 3-2 saya sangat frustasi, kami tak bisa mempertahankan skor. Laga ini sangat luar biasa sebab kedua klub menyerang dengan bagus, skuat kami dengan kombinasi hebat, mereka lewat serangan balik cepat. Karena ini laga sangat menarik,” ujar Wenger seperti dikutip Sky Sports.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *